Canangkan Minat Baca Sejak Dini Pada Anak

Abdan Syakur

Div. Pendampingan dan Pemberdayaan Gagas Foundation

 

Minat baca orang Indonesia tebilang sangat rendah dibandingkan dengan negara-negara lain, Indonesia jauh tertinggal. Hal ini tidak mengherankan karena sejak kecil kita tidak dididik orang tua kita untuk mencintai buku. Kalau diberi uang saku maka anak Indonesia, biasanya akan memakainya untuk membeli makanan (jajan). Itu sebabnya uang saku lebih sering dikenal dengan sebutan "uang jajan", karena memang tujuannya untuk membeli makanan. Jarang anak dididik untuk menggunakan uang sakunya untuk sesuatu yang lain, misalnya untuk menyewa buku atau membeli alat tulis atau buku. Hal-hal tersebut dianggap otomatis tugas orang tua untuk menyediakannya. Anak tidak diajar dari kecil untuk bertanggung jawab terhadap kebutuhannya sendiri. Alasan lain kenapa anak tidak menginginkan buku, karena harga buku sering tidak terjangkau oleh "uang jajan" anak tadi.

Hasil survei UNESCO menunjukkan bahwa Indonesia masih jadi negara dengan minat baca masyarakat paling rendah di ASEAN! Tahun 2012, UNESCO mencatat indeks minat baca kita cuma 0,001. Artinya dalam setiap 1.000 orang, hanya ada satu orang yang punya minat membaca. Berangkat dari kegelisahan akan rendahnya minat baca masyarakat, terutama anak-anak. Gagas Foundation mencoba membangun minat baca anak-anak sejak dini melalui program mading pelangi. Melalui program Mading Pelangi, Gagas mengembangkan strategi atau pendekatan yang baru agar anak menjadi lebih tertarik dalam hal menulis dan membaca yang mereka inginkan. Dalam kegiatan ini, anak-anak diberikan kebebasan untuk berkarya dalam hal menulis dan menggambar apapun yang mereka suka untuk dikirim ke mading pelangi Jakarta. Karya untuk gambar dan tulisan yang menarik akan diterbitkan bersama karya anak-anak di seluruh Indonesia dan langsung di pasang di sekolah masing-masing. Kegiatan mading pelangi ini terselenggara dari kerjasama Gagas Foundation dan Mading Pelangi Jakarta. Saat ini, gagas hanya fokus di delapan sekolah di kota Mataram yakni SD 1 Cakranegara, SD 24 Cakranegara, SD 26 Cakranegara, SD 2 Cakranegara, SD 1 Mataram, SD 8 Mataram, SD 6 Mataram, dan SD 24 Ampenan. Antusias adik-adik terlihat dari beberapa karya yang terbit dan bersaing dengan anak-anak diberbagai propinsi di Indonesia. Kegiatan ini akan berlangsung selama satu tahun dan saat ini mading pelangi memasuki edisi ke enam, mudah-mudahan dengan adanya mading pelangi minat baca dan menulis adik-adik terus berkembang karena semakin besar peluang anak-anak untuk membaca melalui fasilitas yang tersebar, semakin besar pula stimulasi membaca sesama anak-anak. Dengan mengetahui pentingnya (manfaat) budaya membaca, marilah kita canangkan budaya gemar membaca untuk diri kita sendiri, anak, keluarga dan masyarakat sekitar. Mampukah kita…? nah..Loooo…!!!?????