Sepak Terjang Dahlia dalam Pencegahan Pernikahan Usia Anak; Akhirnya Bersuara

_DSC0432

Dahlia

Fasilitator Sebaya Gagas Mataram

(MTS. Tanjung Sanggar)

Siang itu, dengan udara yang panas tidak menghalangi berlanjutnya kegiatan diskusi di MTS Tanjung Sanggar. Tubuhnya tidak terlalu tinggi dan kurus, raut muka yang polos serta kulitnya hitam manis mencerminkan seorang anak perempuan yang penuh semangat.

Nama aslinya adalah Dahlia, ia sering dipanggil Dahlia. Keaktifannya di kelas dan sekolah membawa Dahlia menjadi fasilitator sebaya yayasan Gagas Mataram perwakilan MTS Tanjung Sanggar salah satu sekolah binaan dar sepuluh sekolah binaan Galang Anak Semesta (GAGAS) Mataram. Fasilitator Sebaya yang diamanatkan kepadanya dia jalankan dengan penuh dedikasi guna membantu peran guru dan teman-temanya agar bisa meraih masa depan.

Kegiatan sehari-hari baik di sekolah maupun diluar, selain belajar Dahlia aktif berdikusi dengan fasilitator sebaya lainnya guna mencari solusi bagi teman-temannya yang rentan menikah di usia anak, karena pernikahan di usia anak akan mengambil masa depan seorang anak. Dalam pernikahan ini, anak belum siap secara fisik dan psikologis.” Ungkapnya”. Iapun mulai bercerita didalam pertemuan pembahasan SOP dan mekanisme penanganan kasus di depan peserta yang terdiri dari komite sekolah, tokoh agama, tokoh masyarakat, para guru, dan LPAD di Tanjung Sanggar.

Di desa tempat tinggalnya, sudah menjadi suatu tradisi jika seseorang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap, putus sekolah, maka solusinya adalah menikah atau merantau. Harapannya adalah bisa merubah nasib dan sukses. Dari kondisi itu, Iapun mulai bercerita tentang teman sekelasnya yang tidak bisa melanjutkan pendidikan karena masalah keluarga. Di daerahnya dimana para orang tua menganggap pendidikan tidak terlalu penting bahkan lebih memilih menikahkan anaknya dari pada harus sekolah, dengan pemikiran nantinya tidak menghabiskan biaya dan pada akhirnya dapat membantu orang tua. Namun, kenyataan dari semua itu tidaklah benar. “ Tuturnya". Kepada semua peserta”. Iapun melanjutkan cerita. Melalui fasilitator sebaya, berangkatlah Dahlia bersama teman-temanya yang lain ke orang tua temanya yang mempunyai masalah kelauarga tersebut, berharap orang tuanya bisa mengerti, Dahliapun menceritakan dampak negatif serta akibat yang akan ditimbulkan nantinya jika seorang anak menikah di usia anak. “ kami bercerita persis seperti yang kami dapatkan dalam pelatihan yang diberikan oleh Galang Anak Semesta.” Terangnya”.  Akan tetapi,  belum selesai kami ceritakan Ibunya sudah memotong pembicaraan kami. Dengan alasan bahwa sekolah bagi anak perempuan hanya menghabiskan uang saja toh akhirnya nanti menikah juga, daripada seperti itu lebih baik menikah lebih cepat. “Ungkap Dahlia” menceritakan ulang apa yang dikatakan Ibu temannya. “Pada kesempatan itu, sebenarnya kami bisa mempengaruhi ayahnya diapun sangat setuju melihat anaknya untuk sekolah bahkan setinggi-tingginya berbeda dengan ibunya yang berpikir sebaliknya. Melihat kejadian tersebut, kamipun menghadap kepada Bapak guru untuk meminta masukan dan pendapat supaya teman kami bisa melanjutkan pendidikan. Usaha kami mulai dari pendekatan kepada keluarga, memberitahu tentang dampak pernikahan di usia anak bagi kesehatan, bahkan nanntinya beban yang ditanggung oleh teman kami. Namun, usaha kami kandas ditengah jalan, ketika mengetahui ayah dan ibu dari teman kami bercerai karena berbeda pandangan dan karena suatu alasan.

Ibu dari teman kami terus memaksa untuk menikahkanya dengan pemuda yang jauh lebih tua darinya, sampai-sampai semua pakainnya dibakar. Akhirnya, teman kamipun tidak mempunyai pilihan dan tidak ada tempat untuk mengadu. Kami hanya berusaha meyakinkan dia untuk bersabar sedikit lagi menunggu ujian sekolah yang beberapa minggu lagi akan di laksanakan. Usaha kami tidak sia-sia, teman kami bisa mengikuti ujian nasional meskipun setelahnya itu ia harus meninggalkan masa remaja dan masa depan.

Mimpi untuk sukses dan merubah masib untuk teman kami sudah kandas. Terlihat, tidak ada lagi senyum manis di wajahnya, hanya ratapan tangis, saat kami melihat matanya yang mulai berkaca seolah-olah berpesan dan berkata “ railah masa depanmu, kejarlah cita-citamu setingg-tingginya, jangan pernah seperti aku ini”. Kamipun, mencoba tersenyum meskipun terasa sakit dan sesak di dada berharap bisa menghapus kesedihannya.