workshop hak anak dan dampak pernikahan usia anak di kec. Suela

IMG_8259 IMG_8246 IMG_8238

IMG_8242

Salah satu masalah yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini adalah masalah rendahnya sumber daya manusia yang berujung pada tingginya angka kemiskinan yang sulit diatasi. salah satu penyebab terjadinya masalah tersebut adalah masih tingginya angka pernikahan di usia anak. Pernikahan di usia anak sering kali membuat anak-anak berhenti sekolah, yang berdampak pada sulitnya anak mendapatkan pekerjaan yang layak dan membuat anak terjebak dalam lingkaran kemiskinan. Pernikahan di usia anakpun berdampak negatif terhadap tumbuh kembang anak dan janin yang dikandungnya. Seperti yang diungkapkan oleh Deriktur Gagas (Azhar Zaini) dalam sebuah workshop di kecamatan Suela dalam rangka " Pencegahan Pernikahan Di Usia Anak "; sekarang ini, kita sering melihat anak melahirkan seorang anak. Pernyataan dari deriktur Galang Anak Semesta ( Gagas) Mataram ini sangatlah benar, karena antara ibu dan anak yang masih dalam kandungan sama-sama dalam tahap pertumbuhan dan memerlukan asupan gizi. Karena keduanya masih dalam tahap pertumbuhan,  gizi yang masuk kedalam tubuh ibu dan anak tidak maksimal. Banyak hal yang bisa terjadi jika seorang anak belum siap melahirkan disebabkan memilih menikah di usia anak, seperti: bayi yang dilahirkan nanti menjadi prematur, akan mengalami kesulitan persalinan, berat bayi lahir rendah bakan akan mengalami kecacatan, dan mengakibatkan kematian ibu dan bayi. Namun kenyataan sekarang ini, seandainya kita cermati bahwa anak-anak  yang seharusnya masih duduk dibangku sekolah lebih memilih menikah di usia anak, padahal belum siap baik secara fisik maupun psikologis. keaadaan sosial yang terjadi dimasyarakat sekarang ini membuat Gagas merasa terpanggil untuk mencoba menggagas kelompok masyarakat, pemuda, bahkan pemangku kepentingan untuk melek (bangun) melihat permasalahan sosial tersebut. Gagaspun memilih dua kecamatan di Kab.Lombok Timur yakni kecamatan Pringgabaya dan Suela yang berdasarkan hasil survey masih tinggi angka pernikahan di usia anak untuk melakukan pembinaan.